nila-riwut.com

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf
Home Tjilik Riwut

Ir Soekarno and Tjilik Riwut

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 16
JelekBagus 

Tjilik Riwut, my father.

Situs internet ini ditulis berdasarkan catatan harian dan dokumentasi ayahku bapak Tjilik Riwut.

Bercerita tentang ayahku, terkadang unik karena kerapkali ayahku melakukan hal yang tak terduga. Seperti yang pernah aku alami ketika aku tugas piket seorang diri jaga ayahku yang terbaring lemah dirumah sakit. Saat itu tanggal 16 Agustus 1987 yang berarti sehari menjelang kepergian beliau. Tanpa kusangka ayahku mengajakku nyanyi bersama lagu kesayangan beliau yaitu Mohing Asang. Beliau menghitung satu. . . dua . . dan pada hitungan ketiga kami berdua menyanyi bersama. Ayahku walau dalam kondisi lemah namun menyanyi dengan suara lantang dan penuh semangat. Dilain pihak, aku menyanyi pelan nyaris berbisik karena malu terdengar perawat. Suaraku yang nyaris tak terdengar membuat ayahku marah dan memintaku menyanyi lebih keras. Dari pada kena bentak, lebih baik kubernyanyi sekeras mungkin demikian pikirku dan menyanyilah aku. Tak kusangka ayahku menyanyi dengan suara yang lebih keras lagi dariku. Lalu . . . benar apa yang kukhawatirkan. Beberapa perawat muncul dengan mata terbelalak dan wajah penuh tanda tanya. He he malu sekali rasanya. Spontan aku berhenti menyanyi, namun ayahku tetap bernyanyi.

Lagu Mohing Asang populer dikalangan suku Dayak Ot Danom dan ayahku sangat gemar menyanyikannya. Singkat kata, Mohing Asang adalah lagu kesayangan ayahku. Dari catatan harian beliau kutemukan info bahwa saat melaksanakan misi pemerintah sebagai ROPRI ( Rombongan Oetoesan Pemerintah Repoeblik Indonesia ) memasuki pedalaman Kalimantan dari Yogyakarta pada tahun 1946, untuk mengobarkan semangat juang diri sendiri atau mampatekang hambaruaa, lagu tersebut tak henti-hentinya beliau nyanyikan dengan suara nyaring ditengah belantara pula. Dari catatan beliau pula kutemukan info bahwa Mohing Asang adalah nyanyian perang dan merupakan komando dari Panglima Perang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Ot Danom dengan dialek Siang-Murung. Apabila Panglima Perang membunyikan salentak tujuh kali lalu terdengar Mohing Asang maka pertempuran siap dilaksanakan.

Kini Mohing Asang, pengobar semangat juang yang juga lagu kesayangan ayahku dapat didengarkan pada album pop daerah Manggatang Utus. Siapa tahu Generasi Penerus juga membutuhkan semangat juang demi mampatekang hambaruan pribadi dalam usaha menggapai dan menggenggam jati diri sebagai manusia Dayak yang bersikap lokal dan berfikir global. Semoga.


Menyanyi dipanggung gembira bersama ayah di Kuala Kapuas Kalteng tahun 1962

Usai menyanyi, ayahku memandangku dengan tatapan tajam lalu berkata : ” Nila, rasa-rasanya umur bapak tidak panjang lagi. Bila waktunya tiba, Nila tidak boleh menangis. Nila bisa ? ”. Aku hanya terdiam dan menundukan kepala. Sekali lagi bapak bertanya kepadaku dengan kalimat yang sama. Lalu pelahan kujawab : ” Bisa”. Mendengar jawabanku, ayah tersenyum, aku ternganga karena telah terpancing menyatakan janji kepada ayahku. Bagi orang Dayak, janji adalah segalanya. Ingkar janji identik dengan mempermalukan diri. Demikian yang selalu ayahku katakan pada setiap janji yang kuucapkan.


Lagi, dalam salah satu lembaran catatan harian ayahku, kutemukan kisah pengalaman masa lalu ayah. Pernah pada suatu ketika, akibat kelelahan, ayah terserang demam dengan suhu badan yang sangat tinggi hingga tak sadarkan diri. Hal ini beliau alami dirimba belantara pada masa revolusi.

Pada halaman yang sama, beliau mengekspresikan pula apa yang beliau rasakan pada saat itu ketika harus berhadapan dengan Belanda pada masa penjajahan : ” Penderitaan yang boleh dikatakan hampir belum pernah dienyam seumur hidup dialami. Dalam menjalani hidup selalu menjadi buronan musuh, terpaksa harus berhati-hati agar bisa lolos dari pengepungannya. Suasana ujung bayonet musuh inilah yang menyebabkan kami tidak tentu tempat kediaman. Tidak tentu pula tempat beristirahat. Kadang-kadang berlantaikan tanah, berkasurkan rumput basah, berselimutkan embun sejuk, beratapkan langit, berdindingkan kayu-kayu besar, berbantalkan akar, berlampukan bulan dan bintang. Makan minum tidak tentu, berhujan, berpanas, berjemur, kebasahan, pendeknya beragam-ragam pengalaman yang harus kami lalui. Meskipun demikian dorongan hasrat yang bernyala-nyala hingga ketujuan suci bisa tercapai. Itulah yang agaknya yang menyebabkan semangat dalam jiwa kami ” tak akan lekang oleh panas, tak akan lapuk oleh hujan”. Apa yang telah ayahku tulis disini kupahami sebagai sebuah petuah bahwa seberat apapun tantangan menghadang, segalanya akan mampu dilalui asalkan semangat tak pernah padam.


Satu lagi. Ayahku sangat fanatik dengan angka 17, yaitu angka tanggal kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Begitu menyatunya angka 17 pada diri beliau maka sebagian besar kehidupan ayah dipengaruhi oleh angka 17. Berikut beberapa contoh:


Pelaksanaan Sumpah Setia 142 suku Dayak Pedalaman Kalimantan kepada Pemerintah RI di Gedung Agung Yogyakarta yang diwakili Tjilik Riwut, diadakan pada tanggal 17 Desember 1946.

Operasi penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata RI oleh M.N. 1001 yang dipimpin oleh Mayor Tjilik Riwut di desa Sambi, Pangkalan Bun, diadakan pada tanggal 17 Oktober 1947. Peristiwa bersejarah tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Pasukan Khas TNI-AU.

Desa Pahandut, yang kemudian menjadi Kota Palangka Raya, ibukota Propinsi Kalimantan Tengah, adalah desa yang ke-17 dihitung dari Sungai Kahayan.

Propinsi Kalimantan Tengah dengan Tjilik Riwut sebagai Gubernur pertama adalah Propinsi yang ke-17 di Indonesia.

Propinsi Kalimantan Tengah lahir pada masa Kabinet yang ke-17.

Peletakan Batu pertama Kota Palangka Raya dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 1957.
Ketika menyerahkan Piagam Palangka Raya kepada Pemerintah Pusat, 15 Desember 1958, Gubernur Kalimantan Tengah Pertama, Tjilik Riwut menjanjikan bahwa Pada tanggal 17 Agustus 1959, Palangka Raya yang pada saat peletakan batu pertama masih berupa hutan rimba belantara, telah siap menjadi ibukota sebuah propinsi. Maksudnya, masyarakat di Kalimantan Tengah bertekad untuk bekerja keras, bahu membahu mengusahakan pembangunan prasarana dan sarana, pembangunan jalan-jalan, perkantoran, perumahan, bandar udara dan sebagainya untuk lebih siap melaksanakan pembangunan ke depan. Tekad tersebut bagai cambuk yang membakar semangat kerja masyarakat di Kalimantan Tengah. Mereka tanpa kenal lelah, bahu membahu, gotong royong mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung agar pada tanggal yang dijanjikan yaitu 17 Agustus 1959, Kota Palangka Raya telah siap disebut sebagai ibukota sebuah propinsi.



Pada saat menjadi Gubernur KDH Tk.I Propinsi Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut mempunyai telepon yang bernomor 17 dan mobil dinas bernomor polisi KH 17.

Pembangunan gereja Katholik pertama di Palangka Raya, konstruksi bangunannya mencerminkan angka 17-8-1945, di mana bangunannya berbentuk segi 8.

Tjilik Riwut mengakhiri masa jabatan sebagai Gubernur KDH Tk.I Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Februari 1967.

Peringatan Napak Tilas perjuangan Tjilik Riwut di Kalimantan Tengah dan penandatanganan prasasti tempat pertapaan Tjilik Riwut di Bukit Batu oleh Gubernur Tk.I Kalimantan Tengah tertunda-tunda, akibat banjir. Pada tanggal 17 Mei 1995, baru bisa dilaksanakan.

Nama lengkap ibuku, Clementine Suparti terdiri dari 17 huruf.

Lalu . . . pada tanggal 17 Agustus 1987, pukul 04.45 WITA , ayahku dipanggil oleh Sang Pencipta di Banjarmasin dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang di Palangka Raya. Segalanya dilakukan tepat pada tanggal 17, mungkin saja diupayakan dan diatur. Namun satu hal, diluar kemampuan manusia adalah tanggal ayahku wafat yang bertepatan dengan tanggal atau angka favorit beliau yaitu 17 Agustus.


Pada saat pemakaman ayah, kusaksikan ibuku, dan keempat saudaraka, Enon, Hawun, Ida dan Kletus menangis. Namun aku tidak lakukan hal yang sama. Janjiku kepada bapak telah mampu kutepati, walau ketika peti jenasah perlahan-lahan diturunkan keliang lahat, pandanganku berkunang-kunang dan ketika sadarkan diri aku telah berada dirumah sakit Doris Sylvanus Palangka Raya dengan ditemani pamanku, Oom Tiel Djelau. Aku bersyukur, Janji untuk tidak menangis telah kutepati.


Terima Kasih Tuhan untuk kenangan indah bersamanya.


Photo keluarga tahun 1975.


Sumber data : facebook : Nila Riwut full.

Bukit Batu

Pertapaan Pahlawan Nasional Tjilik Riwut

Bukit Batu yang kini lebih dikenal dengan nama Pertapaan Pahlawan Nasional Tjilik Riwut, terletak di daerah Kalimantan Tengah. Saat ini oleh Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah tempat tersebut telah ditetapkan sebagai objek wisata spiritual.

1. Asal Usul

Cerita panjang yang melatar belakangi munculnya pertapaan Bukit Batu tersebut diawali dengan kisah seorang penduduk desa Tumbang Liting yang bernama Burut Ules. Ia seorang yang bakaji[1]. Pada suatu hari, seorang diri ia pergi menuju ke suatu tempat untuk membuka lahan perladangan. Tanpa kawan, ia kerja keras, membabat hutan, membangun pondok untuk tempat beristirahat, tanpa melupakan tradisi leluhurnya yaitu memohon izin terlebih dahulu kepada segala mahluk yang tidak terlihat oleh mata jasmani, penunggu daerah tersebut.

Suatu siang ketika Burut Ules merasa lelah, beristirahatlah ia sejenak di bawah sebuah pohon rindang yang tinggi dan telah berusia ratusan tahun. Dengan posisi tiduran sambil berbantalkan tangan, matanya menerawang jauh ke depan. Matahari bersinar terik, namun karena berada di rimba raya, sepoi-sepoi angin menyentuh lembut kulitnya, sejuk terasa, dan kantuk mulai datang menyerang. Akan tetapi ketika Burut Ules nyaris terlelap, ia terperanjat dan langsung melompat bangkit.

Dilihatnya tujuh perempuan cantik yang sangat menawan turun dari langit langsung menuju telaga yang ada didekatnya. Saat itu hujan rintik-rintik namun matahari masih bersinar dengan teriknya. Menyaksikan hal tersebut dengan mengendap-ngendap Burut Ules mendekati telaga. Sambil bersembunyi ia mengintip rombongan kecil tersebut. Gadis-gadis itu langsung membuka pakaian, besaluka[2] tanpa penutup dada, dan terjun berenang, ceria, penuh tawa canda nan meriah.

Burut Ules terpana, mata tak berkedip menyaksikan pemandangan itu. Salah seorang yang nampak paling muda dalam kelompok itu, gerak geriknya membuat Burut Ules sangat terpesona. Tanpa sepengetahuan si gadis, matanya menatap tajam ke arah sang dara. Saat itu juga Burut Ules langsung jatuh cinta.

Setelah puas mandi dan berenang, kelompok kecil itu naik ke darat, kembali berpakaian dan melompat ke angkasa menuju langit. Sejak saat itu Burut Ules menjadi susah, resah, gelisah. Ia sangat menyesali dirinya mengapa pada saat itu tidak langsung memeluk si perempuan bungsu yang sedang mengenakan pakaiannya seusai mandi, padahal jarak antara mereka tidak jauh. Rasa sesal tersebut sangat menderanya hingga tidur tak nyenyak makan pun ia tak kenyang.

Suatu hari ketika matahari sedang bersinar terik dan turun hujan rintik-rintik, bergegas Burut Ules ke semak-semak menunggu dan mengamati telaga tempat idaman hatinya mandi. Usaha dan penantiannya tidak sia-sia, tidak lama kemudian di angkasa terlihat buah hatinya dengan saudara-saudaranya menukik menuju telaga. Menyaksikan hal tersebut, jantung Burut Ules nyaris copot. Pelan-pelan Burut Ules menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.

Kemudian Burut Ules melihat adegan ulangan yang pernah ia saksikan. Ketujuh dara yang baru tiba langsung membuka pakaian, dengan ceria terjun ke telaga, mandi sambil berenang, penuh tawa ria. Namun ketika mereka menginjak tanah kembali untuk berpakaian, ketika itu pula Burut Ules mendadak muncul diantara mereka dan serta merta memeluk buah hatinya. Kepanikan pun terjadi, kelompok kecil tersebut tergesa-gesa memakai pakaiannya masing-masing langsung lompat menuju langit dengan meninggalkan si adik bungsu yang ketakutan dalam pelukan erat Burut Ules.

Ketika semua kakaknya telah pergi meninggalkannya, si bungsu berkata kepada Burut Ules: “Mengapa aku kau sekap? Apa salahku? Dan apa maumu? Bila kau ingin membunuhku, silahkan bunuh aku, aku tak akan melawan”.

Burut Ules tak mampu menjawab pertanyaan beruntun itu, ia hanya menjawab singkat, bahwa ia mencintai dan ingin menikahinya. Si bungsu langsung membalas pelukan Burut Ules dan resmilah mereka menjadi suami isteri.

Selanjutnya Burut Ules sibuk menyembunyikan pakaian yang pernah dipakai oleh isterinya saat pertama mereka bertemu. Ia khawatir isterinya akan meninggalkannya apabila pakaian tersebut dipakai lagi oleh isterinya. Untuk selanjutnya pakaian baru yang terbuat dari kulit kayu, yang ia berikan kepada isterinya. Singkat cerita, isteri Burut Ules hamil dan lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama...[3]. Burut Ules hidup bahagia bersama anak dan isterinya.

Suatu hari muncul seorang pemuda, mamut menteng, hitam, tinggi besar mengunjungi keluarga itu. Isteri Burut Ules mengenalkan kepada suaminya bahwa pemuda tersebut adalah salah seorang saudaranya yang datang untuk mengunjungi mereka. Burut Ules menerima kehadiran pemuda tersebut dengan baik, bahkan pemuda itu diizinkan turut menginap di rumahnya.

Namun, lama kelamaan Burut Ules merasa curiga karena setiap mandi di telaga, mereka selalu pergi berdua, berenang ceria, dan hanya berdua. Anak mereka yang masih bayi ditinggal begitu saja di gubuk. Rasa cemburu mulai muncul, namun apabila Burut Ules menanyakan hal tersebut, isterinya selalu memberikan jawaban yang sama, bahwa pemuda tersebut benar saudaranya.

Teguran untuk mandi renang berdua di telaga telah diberikan, namun acara renang bersama tetap juga berlanjut. Timbul kemarahan Burut Ules.

Suatu hari, pada saat yang tepat, Burut Ules menikam pemuda hitam tinggi besar tersebut dengan tombak hingga tewas dan seketika jasadnya gaib. Sekalipun tombak yang dipakai untuk membunuh telah disembunyikan, namun hal itu diketahui juga oleh isterinya.

Ketika Burut Ules pulang ke rumah, dijumpainya isterinya berdiri di hejan[4] sambil menggendong anak lelaki mereka satu-satunya. Ketika melihat Burut Ules datang, dengan nada penuh duka isterinya mengatakan bahwa ia sangat sedih dan kecewa karena suaminya tidak lagi mempercayainya bahkan tega membunuh saudaranya. Oleh karena itu ia bertekad untuk pulang ketempat asalnya dengan membawa serta putra mereka.

Sebelum pergi, masih sempat isterinya berpesan bahwa kelak dikemudian hari apabila anak turunan Burut Ules membutuhkan bantuannya, maka anak semata wayang mereka akan selalu siap membantu. Dikatakan pula bahwa kelak apabila anak mereka telah dewasa, ia tidak dapat hidup dan berdiam di alam dimana ibunya berada karena ayah dan ibunya berasal dari alam yang berbeda. Oleh karena itu apabila anak mereka telah dewasa, ia akan kembali ke alam ayahnya. Setelah berkata demikian anak dan ibu lenyap dari pandangan mata Burut Ules dan Burut Ules menjadi sedih tak terhingga.

Sesal kemudian tak berguna. Burut Ules mencoba bangkit dari kesedihannya. Hari-harinya ia habiskan untuk kerja keras, letih tidur dan kerja lagi, kerja, kerja, dan terus bekerja. Begitu seluruh waktunya ia lalui untuk bekerja mengurus ladang, menangkap ikan, dan banyak kegiatan lain yang ia lakukan.

Waktu berlalu, sedikit demi sedikit Burut Ules mampu bangkit kembali dari kesedihan akibat ditinggal pergi oleh isteri dan anaknya. Kemudian kawinlah ia dengan anak Kutat. Dari perkawinan ini lahirlah dua orang anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Diyakini bahwa hingga kini Burut Ules tidak pernah meninggal dunia tetapi gaib ke alam lain.

Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturunkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama isteri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam tempat bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit yang kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut.

2. Pertapaan Tjilik Riwut

Riwut Dahiang yang bertempat tinggal di daerah Sungai Sala, sangat mendambakan anak laki-laki. Keinginan tersebut demikian kuat dan mendalam. Walau berkali-kali Piai Riwut isterinya telah melahirkan anak, namun apabila anak laki-laki yang lahir, selalu saja meninggal dunia dalam usia balita. Keinginan yang sedemikian kuat membawa Riwut Dahiang bermohon dengan khusuk kepada Hatalla[5]. Maka pergilah ia menuju ke suatu tempat keramat yaitu Bukit Batu.

Di tempat itu Riwut Dahiang balampah[6] dan bermohon untuk diberikan seorang putera laki-laki. Wangsit yang diperoleh menyatakan bahwa kelak di kemudian hari putra lelaki yang sangat didambakan itu akan mengemban tugas khusus bagi masyarakat sukunya.

Tanggal 2 Pebruari 1918, anak laki-laki yang sangat diharapkan lahir dengan selamat di sebuah kebun durian Kampung Katunen Kasongan Kalimantan Tengah.

Sejak kecil oleh ayahnya, Tjilik Riwut sering diajak ke Bukit Batu sehingga bagi Tjilik Riwut kecil tempat itu sudah tidak asing lagi baginya. Setelah melampaui usia balita, ketika sedang bermain-main dengan teman seusia, terkadang Tjilik Riwut begitu saja pergi meninggalkan teman-temannya menuju Bukit Batu. Entah apa yang ia lakukan disana, tak seorang pun tahu.

Ketika menginjak usia remaja, Tjilik Riwut mulai mengikuti tradisi orang tuanya, pergilah Tjilik Riwut seorang diri menuju Bukit Batu. Di Bukit Batu ia balampah. Wangsit pertama yang ia peroleh mengarahkannya untuk menyeberang laut menuju pulau Jawa. Ketika itu komunikasi dan transportasi dari pedalaman Kalimantan ke Jawa amatlah sulitnya. Dapat dikatakan hanya impian. Jangankan ke pulau Jawa, menuju Banjarmasin yang juga berada di pulau yang sama yaitu Kalimantan membutuhkan perjuangan.

Tjilik Riwut tak kenal putus asa, halangan dan kesulitan yang menghadang ia anggap sebagai tantangan. Segala macam cara telah ia lakukan baik berjalan kaki menerobos rimba, naik perahu dan rakit, asalkan bisa mencapai pulau Jawa. Akhirnya sampai juga ia ke Banjarmasin. Singkat cerita, ketika sampai di Banjarmasin, Tjilik Riwut berusaha mendapatkan pekerjaan yang ada peluang untuk menghantarkannya ke Pulau Jawa.

Pada tahun 1942 di Banjarmasin, tengah malam ketika semua orang sedang tidur, Tjilik Riwut bangun dari tidurnya dan langsung membangunkan kawan-kawannya yang sedang terlelap tidur. Dengan begitu yakin Tjilik Riwut mengatakan kepada kawan-kawannya bahwa ayahndanya Riwut Dahiang malam ini telah dipanggil Yang Kuasa.

Tentu saja semua kawan-kawannya terheran-heran, tak satupun yang percaya bahkan mengira bahwa Tjilik Riwut sedang mimpi. Namun dengan mantap dan penuh keyakinan sekali lagi ia mengatakan bahwa semua ini benar karena penguasa Bukit Batu baru saja datang menemuinya menyampaikan pesan tersebut dan mengatakan bahwa sejak saat itu Tjilik Riwut adalah teman terdekatnya.

Tjilik Riwut meminta teman-temannya untuk mencatat kejadian tersebut lengkap dengan tanggal dan jam terjadinya peristiwa. Djainudin, Essel Djelau dan seorang teman lagi langsung mencatat walau tidak begitu yakin bahwa apa yang dialami Tjilik Riwut tersebut benar terjadi. Untuk mengecek kebenaran firasat tersebut hanya mungkin apabila ada seorang warga yang berasal dari Kasongan datang ke Banjarmasin. Saat itu komunikasi tidak semudah saat ini. Belum ada telepon, belum ada layanan pos, pengiriman berita mungkin terjadi apabila ada kenalan yang datang dari kampung halaman.

Suatu hari ketika seorang kawan datang dari Kasongan ke Banjarmasin, Tjilik Riwut bergegas menanyakan keadaan orang tuanya. Memang benar pada saat firasat dirasakan, pada saat itulah ayah tercintanya pergi menghadap ke hadirat Illahi.

Di masa Revolusi ketika Tjilik Riwut telah berhasil mencapai pulau Jawa bahkan telah terlibat aktif dalam perjuangan menantang Belanda, dalam suatu kesempatan ia pulang kampung dan balampah di Bukit Batu. Ia mohon petunjuk dalam perjuangannya melawan penjajah. Dalam kesempatan itupun Tjilik Riwut bernazar untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka[7]. Sesuatu ia peroleh begitu usai balampah yaitu sebuah batu berbentuk daun telinga. Wangsit yang ia peroleh mengatakan bahwa batu tersebut dapat digunakan untuk mendengarkan dan memonitor musuh apabila diletakkan pada daun telinganya. Namun setelah kemerdekaan diperoleh oleh bangsa Indonesia, batu telinga itu pun gaib.

Dikutip dari Maneser Panatau Tatu Hiang, Tjilik Riwut, pusaka Lima, Palangka Raya, 2003.

BIODATA TJILIK RIWUT

A. Nama: Tjilik Riwut

Tempat/tanggal lahir: Kasongan, Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918

Jenis Kelamin: Laki-laki

Suku: Dayak Ngaju

Agama: Katolik

Pangkat: Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU

Golongan: Pembina Utama IV e

Pendidikan: - SR 1930

- Taman Dewasa 1933

- Kursus Wartawan 1936

Wafat: 17 Agustus 1987

Nama Orang tua: Riwut Dahiang

Nama Istri: Clementine Suparti

I. Anak Menantu

Anak Menantu

1. E.Enon Heryani Ir. Riwung Toemon

2. A.Ratna Hawun Meiarti Chrys Kelana , SH. Chrys Kelana

3. Dra. Theresia Nila Ambun Triwati 1. dr. Herman Hidayat

( : 22 Maret 1979)

2. R.M Anakletus Suseno

4. Kameloh Ida Lestari Tjilik Riwut

5. Anakletus Tarung Tjandra Utama Dra. Peggy Priscilla Koesno

Tanda Jasa

1. 1958 : GOM I

2. 1958 : GOM IV

3. 1958 : Bintang Sewindu Angkatan Perang RI

4. 1958 : Perang Kemerdekaan I

5. 1958 : Perang Kemerdekaan II

6. 1959 : Bintang Gerilya

7. 1963 : Satya Lencana Pejuang Kemerdekaan

8. 1967 : Satya Lencana Wiradharma

9. 1972 : Bintang Swa Bhuwana Paksa Klas II

10. 1974 : Prajurit Setia 24 tahun

11. 1978 : Satya Lencana Karya Satya Klas I

12. 1970 : Penegak

13. 1981 : Bintang Veteran Pejuang Kemerdekaan RI

14. 1988 : Bintang Legiun Veteran RI

15. 1995 : Bintang Mahaputra Utama

16. 1998 : Bintang Mahaputra Adipradana

17. 1998 : Gelar Pahlawan Nasional

Gelar

1. 1962 : Gelar Pionir Pembangunan Kalimantan Tengah, diberikan oleh DPR-GR Kalimantan Tengah

2. : Bapak Pembangunan Kalimantan Tengah, diberikan oleh DPR-GR Swantara Tk.I Kotawaringin Timur (Sampit)

3. 1962 : Bapak Utama Pembangunan dan Pembina Kalimantan Tengah, diberikan oleh peserta Musyawarah Pembangunan dan Ekonomi di Palangkaraya.

4. : Bapak Perintis dan Pembangunan Kalimantan Tengah, diberikan Alim Ulama se Kalimantan Tengah.

5. 1980 : Sesepuh Umat Hindu Kaharingan

6. 1986 : Pinisepuh Golkar

7. 1988 : Sebagai penghargaan pemerintah kepada beliau, yang merupakan tokoh pendiri Kota Palangkaraya serta pelopor dan perintis pembangunan wilayah Kalimantan Tengah, pada tanggal 10 Nopember 1988 nama beliau diabadikan sebagai nama bandar udara di Palangka Raya

8. : Anak Nyaru Hapatar Batu

Antang Liang Habalu Kilat

Mangkalewu Bukit Batu,

artinya:

Dewa Petir bertangga batu

Burung elang berambut kilat

Penghuni Bukit Batu,

Diberikan oleh masyarakat Kawedanan Sampit Timur (Kasongan).

Piagam Penghargaan

1. 1958 : Surat Penghargaan dari Angkatan Udara RI

2. 1962 : Piagam Mentri Pertama RI

3 1964 : Piagam Penghargaan dari Angkatan Udara RI

4. 1967 : Surat Penghargaan dari Mentri Dalam Negeri

5. 1967 : Surat Penghargaan dari DPR-GR Kodya Palangka Raya

6. 1968 : Piagam Penghargaan dari Menteri Perhubungan RI

7. 1971 : Piagam Penghargaan dari Sekretariat Bersama

Golkar Kabupaten Barito Utara.

8. 1971 : Surat Keterangan dari Seskoad

9. 1974 : Surat Penghargaan dari Panglima Daerah

Militer XI/Tambun Bungai

10. 1977 : Piagam Penghargaan di bidang pers Kalimantan Tengah

11. 1982 : Piagam Penghargaan Pimpinan Pusat LVRI

12. 1982 : Piagam Penghargaan BP 7

13. 1982 : Piagam Penghargaan DPR RI

14. 1982 : Piagam Penghargaan Dewan Pembina Golkar

15. 1984 : Piagam Penghargaan DPP Golkar

16. : Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI

Riwayat Pekerjaan dan Jabatan

1. 1940 – 1941 : Pemimpin Redaksi majalah Pakat Dayak bersama “Suara Pakat”.

Koresponden Harian Pembangunan, pimpinan Sanusi Pane

Koresponden Harian Pemandangan, pimpinan M.Tabrani

2. 1945 – 1947 : Pegawai kantor Gubernur Borneo berkedudukan di Yogya

3. 1945 : Perwakilan Dewan Pimpinan Penyelenggara Ekspedisi ke Borneo di Yogyakarta

4. 1946 : Pimpinan rombongan II Utusan Pemerintah RI Yogya ke Kalimantan

5. 17 Des 1946 : Mewakili 142 Suku Dayak di Pedalaman Kalimantan (185.000 jiwa) menyatakan/melaksanakan Sumpah Setia dengan upacara adat leluhur Suku Dayak kepada Pemerintah RI di Istana Kepresidenan (Gedung Agung) Yogyakarta

6. 1946 - 1954 : Mayor TNI/Komandan Pasukan MN 1001 Mobiele Brigade MBT/TNI Kalimantan

7. 1946 - 1949 : Anggota KNIP

8. 17 Okt 1947 : Komandan Penerjunan Pasukan Payung RI Ke Kalimantan

9. 1948 : Asisten Sekretaris Pekerjaan Istimewa pada bagoan Siasat Perang pada Kementrian Seksi Angkatan Udara

10. 1950 : Wedana di Sampit (Kalimantan Tengah)

11. 1950 – 1951 : Bupati Kotawaringin Timur (Kalteng)

12. 1951 – 1956 : Bupati Kepala Daerah Swantara Tk. II Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah

13. 1957 : Residen dpb pada Kantor Persiapan/Pembentukan Daerah Swantara Tk. I Kalimantan Tengah di Banjarmasin.

14. 1958 : Residen dpb pada Pemerintah Swantara Tk. I Kalteng

15. 1957 – 1959 : Anggota Dewan Nasional RI

16. 1958 – 1959 : Penguasa/Pemangku Jabatan Gubernur Kepala Daerah Swantara Tk. I Kalimantan Tengah.

17. 1959 – 1963 : Anggota Dewan Pertimbangan Agung

18. : Anggota DPR-GR Daerah Swantara Tk. I Kalteng

19. 1959 – 1967 : Gubernur Kepala Daerah Tk.I Propinsi Kalteng yang I (Yang memimpin dan mendirikan serta membangun hutan menjadi Kota Palangka Raya

20. 1961 : Pembantu Khusus Angkatan Udara RI di Kalimantan

21. 1963 : Ketua merangkap anggota Panitia Ad Hoc Retooling Aparatur Negara Kalimantan Tengah

22. 1964-1966 : Anggota MPRS

23. 1964 : Anggota Mupenas

24. 1964 : Kolonel Udara Kehormatan TNI-AU

25. 1966 : Komodor Udara (Marsekal Pertama) Kehormatan TNI AU

26. 1967-1972 : Gubernur dpb. pada Koanda Kalimantan

27. 1970 : Pembantu dan Penasehat Pangkowilhan III

28. 1971 – 1987 : Anggota DPRD RI (3 periode/masa jabatan)

29. 1973 –1985 : Koordinator Masyarakat Suku Terasing untuk seluruh Pedalamanan Kalimantan.

30. 1974 : Pembina Utama Golongan IV e

Karya Tulis

  1. Makanan Dayak (1948)
  2. Sejarah Kalimantan (1952)
  3. Kalimantan Memanggil (1958)
  4. Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raya (1962)
  5. Manaser Panatau Tatu Hiang (1965).
  6. Kalimantan Membangun (1979)



[1] Memiliki kekuatan spiritual yang tinggi.

[2] Tapih/bahalai/jarik ( jw ).

[3] Diperlukan izin khusus untuk menyebutkan namanya.

[4] Kayu bulat yang dibuat menjadi tangga rumah.

[5] Yang Maha Kuasa.

[6] Bertapa.

[7] Nazar tsb telah ditepati. Setelah Indonesia merdeka, barulah Tjilik Riwut menikah pada tgl 31 Mei 1948 di Yogyakarta.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Diigo! LinkedIn! TwitThis Joomla Free PHP

Comments (4)
  • satriawan  - Selamat
    Selamat atas terbitnya web ini,sukses selalu Mina...
    Congratulation and Bravo Dayak :0
  • satriawan  - link untuk tampilan playlist lagu-lagu manggatang
    Mohing Asang,singing by Satriawan by Manggatang Utus Oh Indang Oh Apang (singing by Strawberry Band feat Yesi) by Manggatang Utus Ajar Ikei Bue (singing By Susi and Satriawan) by Manggatang Utus Bwin Dayak (singing by Susiana Puspawatie) by Manggatang Utus Kereng Bangkirai (singing by Susiana Puspawatie) by Manggatang Utus Add a playlist to your page using iLike
  • satriawan
    ( Mohing Asang,singing by Satriawan by Manggatang Utus Oh Indang Oh Apang (singing by Strawberry Band feat Yesi) by Manggatang Utus Ajar Ikei Bue (singing By Susi and Satriawan) by Manggatang Utus Bwin Dayak (singing by Susiana Puspawatie) by Manggatang Utus Kereng Bangkirai (singing by Susiana Puspawatie) by Manggatang Utus Add a playlist to your page using iLike)
  • cnyangkal  - Hallo
    Congratulation Nila, you start with a very good moment.
    Thanks
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

VISITORS

Statistics

Kunjungan : 242864

Who's Online

Kami punya 17 tamu online

Advertisement