nila-riwut.com

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf
Home Orang Dayak dari Jaman ke Jaman Orang Dayak dari Jaman ke Jaman 1

Orang Dayak dari Jaman ke Jaman 1

Surel Cetak PDF
Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Sebuah Pengenalan Singkat

Kalimantan sebagai salah satu pulau besar di Indonesia menyimpan berbagai kekayaan baik itu berupa kekayaan alam, juga kekayaan dari unsur manusia penghuni wilayah Kalimantan. Esai ini mencoba untuk dapat melukiskan manusia Dayak (Ngaju) di Kalimantan Tengah dengan sejumlah kebiasaan hidupnya, dan sekelumit situasinya masa kini secara ringkas.

 

 

Hutan dan sungai adalah nadi kehidupan suku Dayak dimasa lalu.

( Dokumentasi Pawaka DIY)


  1. Suku Dayak

Jika kita membicarakan tentang Kalimantan pastilah tidak akan terlepas dari penduduk asli Pulau Kalimantan yakni Suku Dayak.


Keluarga Inti.

( Dokumentasi Tjilik Riwut )

Perahu atau Jukung, transportasi utama masyarakat Dayak dimasa lalu.

( Dokumentasi Tjilik Riwut )

Ada berbagai pendapat berberedar mengenai asal usul Suku Dayak. Tjilik Riwut dalam Bukunya Maneser Panatau Tatu Hiang, menyatakan bahwa orang Dayak percaya bahwa mereka berasal dari langit ke tujuh dan diturunkan ke bumi dengan menggunakan Palangka Bulau ( tempat sesajian yang terbuat dari emas) oleh Ranying Hatalla (Allah)[1]. Secara ilmiah dikatakan sekitar 200 tahun SM terjadilah perpindahan Bangsa Melayu yang pertama ke Indonesia, yang kemudian datang secara bergelombang dari Yunan. Pada awalnya mereka mendiami daerah pantai, namun karena kedatangan bangsa Melayu Muda, maka bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu, terdesak dan masuk ke pedalaman. Hal ini bisa saja terjadi akibat kalah perang atau karena kebudayaan Melayu Tua lebih rendah bila dibandingkan dengan kebudayaan Melayu Muda.

Seorang Antropolog bernama Kohlbrugge membagi suku Dayak menjadi 2 bagian yakni, suku Dayak yang berkepala panjang atau dolichocehaall yang mendiami sepanjang Sungai Kapuas dan bermuara di sebelah barat kota Banjarmasin Kalimantan Selatan. Kedua adalah Suku Dayak yang berkepala bulat atau brachyoephal, antara lain Suku Dayak Kayan.[2] Suku Dayak di Kalimantan terdiri atas 7 suku. Ketujuh suku ini terdiri dari 18 anak suku sedatuk yang terdiri dari 405 suku kekeluargaan.[3]

Di masa lalu sering sekali terjadi perang antar sesama Suku Dayak sendiri. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa Suku Dayak sampai tersebar di seluruh Kalimantan, karena mereka mencari tempat-tempat yang aman dari serangan suku lain. Hal ini mengakibatkan walau sama-sama orang Dayak namun kebudayaan antar suku menjadi berbeda.

Karena maraknya peperangan antar suku pada masa lalu, maka suku Dayak membangun rumah betang atau lamin, rumah yang dibangun dengan ukuran besar dengan panjang mencapai 30-150 meter, dan lebarnya antara 10-30 meter, bertiang tinggi antara 3-4 meter dari tanah. Lantai terbuat dari kayu, berdinding kayu dan atap rumah terbuat dari bahan sirap. Kayu yang dipilih untuk membangun rumah adalah kayu ulin. Selain anti rayap kayu ulin juga berdaya tahan sangat tinggi, bahkan mampu bertahan hingga ratusan tahun. Rumah betang dihuni bersama-sama beberapa keluarga inti dalam satu rumah dapat ditinggali hingga lebih dari 200 orang. Hal tersebut dilakukan demi alasan keamanan. Karena pada masa lalu orang Dayak mengenal mengayau atau memotong kepala musuh. Dalam tradisi mengayau wanita dan anak-anak dilarang keras untuk dikayau atau dipotong kepalanya, namun bagi wanita yang ikut berjuang dalam peperangan hanya diperkenankan untuk dijadikan jipen atau budak.Kebiasaan mengayau, Kayau, habunu atau mambalah adalah kebiasaan memenggal kepala yang dilakukan oleh Suku Dayak dalam peperangan. Mereka yang mampu memotong kepala lawannya dalam sebuah peperangan berarti adalah seorang ksatria. Semakin banyak mereka berhasil memenggal kepala lawannya orang tersebut akan semakin dihargai dan disegani baik dari pihak sendiri ataupun dari pihak musuh.

Untuk membangun rumah betang mereka selalu memilih lokasi dipinggir sungai. Rumah betang dapat pula dikatakan sebagai rumah suku karena didalamnya dihuni oleh satu keluarga besar yang dipimpin oleh seorang Bakas Lewu atau Kepala suku. Setiap keluarga inti memiliki kamar sendiri berbentuk ruangan petak-petak, serta dapur sendiri-sendiri. Pada halaman depan rumah betang biasanya terdapat Balai atau pasanggrahan yang digunakan sebagai tempat menerima tamu atau sebagai ruang pertemuan. Meskipun ukuran rumah betang sangat besar namun pintu dan tangga hanya tersedia satu buah saja yang terletak dibagian depan rumah. Tangga tersebut dinamakan hejan atau hejot. Di bagian sebelah belakang rumah betang biasanya terdapat sebuah balai berukuran kecil yang digunakan untuk menyimpan alat perladangan. Sedangkan di halaman depan rumah biasanya terdapat sapundu yaitu patung berukuran tinggi yang fungsinya untuk tiang pengikat binatang-binatang yang dikorbankan pada saat upacara adat. Sedangkan di halaman depan atau kadang kala di halaman belakang rumah betang biasanya terdapat sandung, yaitu tempat untuk menyimpan kerangka keluarga mereka yang telah meninggal dan telah mengalami ritual tiwah. Hingga saat ini tradisi tinggal bersama-sama dalam rumah betang masih dibertahan walau sudah sangat jarang sekali.

Rumah Betang

( Dokumentasi Tjilik Riwut )

 

Hejan atau Hejot

( Dokumentasi Tjilik Riwut )

 

Sapundu

( Dokumentasi Tjilik Riwut )


B. Masa Kolonial

Masa penjajahan Belanda juga banyak membawa perubahan di Kalimantan, antara lain pergeseran pada sistem masyarakat, religi dan sistem pengobatan mereka. Sebelum masa kolonial Belanda, Suku Dayak sudah mempunyai perkampungan sendiri yang dipimpin oleh seorang kepala suku. Kepala suku tersebut bertindak sebagai hakim di daerahnya. Namun setelah masuknya kolonial Belanda, kedudukan kepala suku diubah menjadi pembakal atau juru tulis. Sedangkan untuk tingkat yang lebih tinggi disebut Damang atau Tumenggung.

Perkembangan selanjutnya, kekuasaan kepala suku semakin hari semakin dipersempit. Hingga pada akhirnya kepala suku hanya menjalankan perintah demi kepentingan pemerintahan kolonial Belanda, seperti sebagai pemungut pajak atau tukang dayung untuk mengantarkan pegawai kolonial dalam melakukan perjalanan ke pedalaman.

Di masa kolonial, baik pada masa penjajahan Belanda maupun Jepang perkembangan Kaharingan sebagai agama atau kepercayaan asli Suku Dayak banyak mengalami hambatan dan tekanan. Para penjajah tanpa mempedulikan perasaan orang Dayak mengatakan bahwa agama Kaharingan adalah kafir, menyembah berhala. Padahal segala ritual kaharingan yang dijalani Suku Dayak merupakan ekspresi sesuai dengan keadaan alam sekitar mereka yang dikelilingi dengan hutan lebat serta sungai yang sangat panjang dan luas. Meskipun demikian, pihak penjajah masih tetap memberikan izin pada masyarakat setempat untuk melakukan berbagai ritual upacara adat yang wajib mereka laksanakan.

Orang Dayak mengenal tiga relasi yang benar-benar harus dijaga

keharmonisannya, yaitu :

  1. Hubungan manusia dengan Ranying Hatalla[4]. Penyang Ije Kasimpei, Penyang Ranying Hatalla Langit, artinya beriman kepada Yang Tunggal yaitu Ranying Hatalla Langit.

2. Hubungan manusia dengan manusia lainnya baik secara kelompok, maupun individu. Hatamuei Lingu Nalata. Artinya saling kenal mengenal, tukar pengalaman dan pikiran, serta saling tolong menolong. Hatindih Kambang Nyahun Tarung, Mantang Lawang Langit. Artinya berlomba-lomba jadi manusia baik agar diberkati oleh Tuhan di langit, dan bisa memandang dan menghayati kebesaran Tuhan.

3. Hubungan manusia dengan alam semesta.

Ciptaan Ranying Hatalla yang paling mulia dan sempurna adalah manusia. Oleh karena itu manusia wajib menjadi suri tauladan bagi segala mahluk lainnya. Keajaiban- keajaiban yang terkadang terjadi adalah sarana untuk mengetahui dan lebih menyadari kebesaran Ranying Hatalla. Dengan demikian, segala mahluk semakin menyadari bahwa hanya Ranying Hatalla yang patut disembah. Alam merupakan suatu tatanan harmoni, dan terjadinya keharmonisan merupakan tanggung jawab manusia.

Masyarakat Suku Dayak percaya bahwa Kaharingan sudah ada sejak awal manusia pertama. Hal tersebut sangat diyakini oleh orang Dayak selama berabad-abad lamanya. Dalam siklus kehidupan, seperti pada saat kelahiran bayi, pemberian nama, pernikahan, bahkan hingga kematianpun mereka selalu melakukan apa yang digariskan oleh Ranying Hatalla yaitu ritual adat. Berbagai ritual adat sudah dilakukan oleh masyarakat Dayak sejak berabad-abad lampau terbukti dengan banyak ditemukannya Sandung (tempat menyimpan tulang pada upacara Tiwah). Sandung sendiri terbuat dari kayu ulin yang tahan panas dan tahan air.

Sandung

( Dokumentasi Tjilik Riwut )

 

Dalam kebudayaan Suku Dayak juga ada kebiasaan untuk memberikan persembahan kepala musuh hasil mengayau pada upacara Tiwah bagi orang tua si pengayau. Mereka memiliki keyakinan bahwa kelak, arwah musuh yang kepalanya dipotong tersebut akan menjadi pelayan bagi orang tua mereka kelak di Lewu Liaw (akherat) Namun di sini satu hal yang perlu diingat dan diketahui, bahwa kebiasaan tersebut bukan aturan yang digariskan oleh Ranying Hatalla.

C. Masuknya Ajaran Kristen di Kalimantan

Menurut Fridolin Ukur, ajaran injil diberitakan untuk pertama kalinya di Kalimantan oleh para misionaris dari Rheinische Missionsgesselschaft. Ketika para misionaris Rheinische Missionsgesselschaft dan Hallesche Mission tiba di Kalimantan sekitar tahun 1835. Injil sebenarnya sudah di bawa masuk di Kalimantan oleh seorang perwira berkebangsaan Inggris yang bernama Daniel Beekmann yang pernah menulis jurnal di tahun 1718, mengisahkan tentang ekspedisinya pada abad ke-17.[5] Jurnal tersebut mengisahkan seorang paderi dari Portugis yang berhasil masuk ke pedalaman Kalimantan, namun sebelum berhasil misinya, paderi tersebut tewas dibunuh warga setempat.

Tjilik Riwut dalam bukunya Maneser Panatau Tatu Hiang menyatakan bahwa masyarakat Dayak sangat kokoh mempertahankan ajaran kaharingan, yang merupakan ajaran yang yang telah turun temurun diwariskan oleh para leluhur mereka.[6] Di pihak lain para misionaris tidak pernah lelah dan pantang menyerah untuk mendekati warga setempat dan mulai mengenalkan ajaran injil. Berkat kegigihan para misionaris, akhirnya sedikit demi sedikit usaha mereka untuk menyebarkan injil di Pulau kalimantan akhirnya menampakkan hasil. Walau perlahan namun pada akhirnya masyarakat Dayak mulai mau menerima ajaran Kristus. Setelah masyarakat Dayak mulai mau mempelajari dan mengenal injil maka Gereja Kristen di kalimantan mengeluarkan Aturan Ungkup. Isinya antara lain menetapkan bagi warga Suku Dayak yang mau dibabtis untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam mempelajari Kristen dan wajib untuk mengikuti kebaktian setiap hari minggu, dan tidak lagi hadir pada saat ritual-ritual adat. Jika mereka melanggar aturan tersebut mereka tidak akan menerima pembabtisan. Ketaatan mereka akan aturan yang dikeluarkan pihak gereja Kristen mau tidak mau harus ditaati oleh mereka yang terpanggil untuk dibabtis. Hal tersebut mengakibatkan mereka terlepas dari kebudayaan mereka. Maka tidak mengherankan jika banyak generasi muda suku Dayak saat ini yang tidak begitu mengenal kebudayaan leluhur mereka sendiri.

D. Masuknya Sistem Pengobatan Modern di Kalimantan

Bagi Suku Dayak di pedalaman Kalimantan, penyakit beserta pengobatannya, sangat erat kaitannya dengan alam religius mereka tentang ajaran Kaharingan. Masyarakat Dayak cenderung melihat penyebab dari suatu penyakit dengan cara metafisik. Suku Dayak mempercayai Balian sebagai penyembuh mereka. Masyarakat Dayak biasa menggunakan ritual tertentu yang dipimpin oleh seorang Balian dalam pengobatan suatu penyakit.

Bagi masyarakat Dayak keberadaan Balian sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Balian adalah seorang perempuan yang bertugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dengan mahluk lain yang keberadaannya tidak terlihat secara kasat mata.( Riwut, 2003:259) Balian menduduki tempat yang penting dalam kebudayaan Dayak. Masyarakat Dayak percaya bahwa Balian memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh setiap orang, oleh karenanya Balian mampu mengobati penyakit terutama penyakit-penyakit yang mereka percaya disebabkan oleh mahluk halus.

Upacara Balian

( Dokumentasi Christian Bela Bangsa )


Dengan masuknya para misionaris di masa kolonial ke pedalaman Kalimantan, sedikit banyak terjadi pergeseran dalam sistem pengobatan pada masyarakat setempat. Para misionaris awal yang masuk ke Kalimantan berusaha mengenalkan sistem pengobatan modern pada masyarakat setempat. Scharer (dalam Ukur, 1971:192) menceritakan pertobatan seorang Balian setelah menerima pelayanan medis di Tumbang Lahang. Balian ini pada awalnya sangat menentang Injil masuk ke Tumbang Lahang. Ia merupakan orang yang paling gigih memperingatkan penduduk agar tetap setia pada adat istiadat nenek moyang. Namun suatu saat anak tunggalnya sakit, dan setelah tidak berhasil melalui pengobatan secara Balian, sangat berat hati ia meminta bantuan dari para misionaris. Akhirnya setelah dilakukan pengobatan secara intensif anak Balian tadi sembuh dari sakit yang dideritanya. Setelah peristiwa tersebut, Balian tadi beserta keluarganya menjadi pemeluk Kristen. Setelah usaha di bidang pengobatan ditingkatkan lewat pendirian poliklinik, rumah sakit, dan dengan sosialisasi masalah sanitasi dan kebersihan, nampak sekali kemajuan yang nampak pada Suku Dayak dalam bidang kesehatan.

Meskipun pengobatan moderen sudah di terima Suku Dayak, namun hingga saat ini pengobatan secara tradisional juga masih bertahan. Seperti pada masyarakat Dayak Ngaju, yang tinggal di Desa Kasongan Baru, Kalimantan Tengah. Kebanyakan penduduk Desa Kasongan Baru memiliki pengetahuan tentang meracik obat-obatan tradisional. Hampir setiap rumah tangga di Desa Kasongan Baru salah satu anggota keluarganya memiliki kemampuan tentang obat-obatan tradisional. Penduduk Desa Kasongan Baru menyebut ramuan tradisional dengan istilah obat kampung. Obat kampung ini biasanya menggunakan daun-daunan dan kayu-kayuan yang tumbuh di sekitar tempat tinggal orang Dayak (Hintan,Mutia,2003:55)

Masyarakat Dayak masih sangat percaya dengan khasiat obat kampung. Mereka masih mengkonsumsi obat kampung pada penyakit-penyakit yang biasa diderita, seperti diare dan berbagai jenis penyakit kulit. Bagi mereka obat kampung merupakan alternatif pengobatan, dan keberadaannya masih tetap bertahan hingga saat ini.. Hal tersebut terbukti bahwa di setiap desa di Kalimantan memiliki seorang Balian, atau dukun, dan Basir ( Hintan,2003:56-57). Basir seperti halnya Balian adalah mediator dan komunikator antara manusia dengan mahluk halus. Di masa silam, Basir selalu seorang laki-laki yang bersifat dan bertingkah laku seperti perempuan, namun pada masa sekarang hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dalam dunia spiritual Basir memiliki kemampuan lebih dalam hal pengobatan, khususnya penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat mistik (Riwut, 2003:259-260).

Nepenthes atau Katupat Napu, adalah tumbuhan asli dari Kalimantan yang dapat digunakan sebagai obat

( Dokumentasi Suparta Diut)


Dalam memilih sistem pengobatan yang tepat biasanya seseorang memiliki banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Seorang pria asli Suku Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah menceritakan pengalamannya dalam memilih sistem pengobatan. Riggisman[7] menceritakan penyakit yang diderita ayahnya beberapa bulan yang lalu sekitar tahun 2002:

“Pada awalnya ayah saya sering mengeluh sakit di daerah perut bagian bawah. Namun oleh ayah saya rasa sakit yang dialaminya hanya didiamkan saja dengan harapan akan sembuh dengan sendirinya. Menurut ayah saya mungkin rasa sakit itu karena kecapean bekerja di ladang. Ayah saya tetap bekerja di ladang seperti biasanya tanpa menghiraukan rasa sakitnya. Namun setelah 2-3 minggu rasa sakit yang diderita ayah saya lebih sering muncul. Sehingga saya memutuskan untuk membawa ayah saya berobat ke dokter. Diketahui bahwa ayah saya menderita penyakit prostat yang harus segera dioperasi. Karena di Kasongan perlatan medisnya masih terbatas, maka saya dan kakak perempuan saya memutuskan untuk membawa ayah saya ke RS. Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya guna menjalani operasi.”

Riggisman bersama ibu dan kakaknya pergi ke Palangkaraya untuk menunggui ayahnya yang akan dioperasi. Akhirnya tiba hari di mana ayah Riggisman harus menjalani operasi, semuanya telah siap seperti prosedur yang berlaku. Namun ketika sudah berada di dalam ruang operasi , dokter mengatakan bahwa kondisi jantung ayahnya lemah dan operasi tidak mungkin dilakukan. Akhirnya mereka pulang kembali ke kampung.

Dalam kondisi pasrah Riggisman sekeluarga sepakat untuk mencoba membawa ayahnya berobat ke seorang Balian yang terkenal di kampung mereka yang bernama Tambi Dawin. Dalam usaha terakhir ini ia mengaku tidak terlalu percaya pada kemampuan sang Balian, namun ia beserta keluarganya tetap membawa ayahnya ke Balian itu sebagai usaha terakhir. Karena pengobatan dengan cara medis modern sudah tidak mungkin lagi dapat dilakukan. Ia bercerita bahwa ia ikut mengantar ayahnya berobat ke Tambi Dawin:

“Pada saat itu saya melihat pangkal paha ayah saya hanya diurut saja oleh Tambi Dawin dengan menggunakan minyak khusus. Tiba-tiba tidak tahu dari mana asalnya keluar batu dari dalam tubuh ayah. Tambi Dawin mengatakan batu itulah yang menyebabkan ayah sakit selama ini. Setelah berobat pada balian tersebut, kondisi ayah saya berangsur-angsur membaik, dan sekarang ayah sudah bisa bekerja di ladang lagi seperti dulu.”

Beda dengan Riggisman, Sinah[8] seorang wanita Dayak yang masih memeluk Kaharingan, sejak awal sangat mempercayai sistem pengobatan dengan cara Balian. Menurut Sinah penyakit dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti diganggu mahluk halus, atau penyakit “kiriman orang”. Menurutnya jenis penyakit yang seperti itu tidak akan bisa diobati oleh dokter. Sinah pun kemudian menceritakan pengalaman ayahnya yang pernah menderita suatu penyakit yang tidak diketahui penyebabnya:

“ Saya mencoba untuk membawa Abah (ayah) berobat ke dokter, bahkan Abah sempat rawat inap di rumah sakit. Hampir 2 minggu lamanya abah di rawat inap di rumah sakit. Abah juga sempat diinfus oleh dokter. Namun penyakit yang dialami Abah tidak sembuh-sembuh bahkan malah semakin bertambah parah. Melihat kondisi Abah yang tidak bertambah baik, maka saya mengambil keputusan untuk membawa Abah berobat ke Balian. Balian tersebut mengatakan ada roh yang mengganggu kesehatan Abah saya. Kemudian oleh Balian diadakan suatu ritual untuk mengusir roh yang mengganggu kesehatan Abah saya tadi. Setelah Balian selesai melakukan ritual pengusiran roh maka kami pulang ke rumah, dan keesokan harinya kondisi Abah saya berangsur-angsur mulai membaik.”.

Sinah juga memiliki pengalaman yang mungkin sulit diterima dengan akal sehat. Ia bercerita bahwa ia pernah mengalami penyakit yang aneh sekali:

”Waktu itu paha saya bengkak sampai saya tidak dapat berjalan, sehingga saya harus merangkak. Kemudian salah seorang anak saya berjanji akan mencari uang tambahan untuk biaya berobat ke dokter, dengan cara mengumpulkan rotan di hutan untuk kemudian di jual kembali. Namun pada malam harinya saya bermimpi didatangi seorang laki-laki yang mengatakan bahwa penyakit saya akan sembuh jika saya mentaati persyaratan yang diberikannya, yaitu menanam pohon nangka dan menyalakan perapian di bawah rumah, dan ada satu syarat lagi yaitu saya harus mengadakan upacara adat. Jika hanya menanam pohon nangka dan menyalakan perapian di bawah rumah itu bisa saya lakikan dengan mudah. Keesokan harinya setelah bangun dari tidur, saya menceritakan mimpi yang baru saja saya alami pada suami saya. Kemudian suami saya membantu menanam pohon nangka dan menyalakan perapian di bawah rumah. Anehnya keesokan harnya bengkak dipaha saya menghilang. Namun untuk mengadakan upacara adat saya dan keluarga mengalami kesulitan karena terbentur masalah biaya. Namun karena takut penyakit saya kambuh lagi maka saya dan suami saya bekerja dengan lebih giat dalam mengumpulkan hasil hutan, ditambah dengan tabungan yang ada serta mencari pinjaman dana maka kami dapat mengumpulkan uang sebanya Rp.4000.000,00. Uang sebanyak itu cukup untuk mengadakan upacara adat. Dalam upacara ini ada beberapa syarat yang harus ditaati yaitu dengan memotong babi dan 7 ekor ayam”.

Demikianlah meskipun pengobatan moderen sudah mulai diterima oleh masyarakat Suku Dayak di pedalaman Kalimantan, namun hingga kini sistem pengobatan tradisional dan Balian masih tetap bertahan.( Hintan,Mutia,2003: 77-80).



[1] Maneser Panatau Tatu Hiang, Hal. 59

[2] Maneser Panatau Tatu Hiang. Hal 60

[3] Maneser Panatau tatu Hiang. Hal 64

[4] Tantang Jawab suku Dayak. Hal 87

[5] Maneser Panatau Tatu Hiang. Hal 536 - 540

[6] Riggisman, seorang sarjana ekonomi lulusan Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Riggisman tinggal bersama dengan ipar, kakak perempuan dan dua orang keponakannya. Mereka tinggal di rumah yang luas, keluarga ini juga memiliki kebun durian yang sangat luas. Keluarga mereka adalah keluarga “berada” di Desa Kasongan Baru. Riggisman dan keluarganya adalah pemeluk agama Kristen.

[7] Sinah hanya bersekolah hingga kelas 5 SD, sehari-harinya ia bekerja sebagai pengumpul hasil hutan yang berupa hasil bumi seperti kayu, rotan yang nantinya akan dijual kembali. Pendapatan yang diperolehnya tidak tetap, tergantung berapa banyak hasil bumi yang dapat dikumpulkannya. Pendapatnya perhari biasanya berkisar antara Rp.40.000-Rp.60.000. Ia tinggal di rumah sederhana bersama dengan suami dan ke-empat anaknya.

[8] Dalam kehidupan di masyarakat, seorang gadis dilindungi dengan peraturan berikut:

1) Dilarang bercakap-cakap berduaan dengan seorang gadis khususnya ditempat sepi. Bila tertangkap basah akan mendapat hukuman adat dan juga diharuskan membayar denda.

2) Bila sedang berada di jalan kemudian bertemu dengan seorang gadis remaja yang belum di kenal, dilarang menatap dan mengamati sekalipun dari jarak jauh. Karena apabila salah seorang keluarga si gadis remaja menyaksikan hal tersebut, akibatnya dituntut dalam rapat.

3) Misalnya dalam perjalanan, seorang perempuan diajak bicara oleh seorang laki-laki padahal keduanya belum saling mengenal, apabila terlihat oleh ahli waris perempuan itu, maka laki-laki tersebut dapat didenda karena dianggap melanggar adat yang berlaku.

4) Apabila seorang laki-laki mengajak satu atau dua perempuan untuk berjalan-jalan, tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada ayah si gadis, akan lebih berat lagi apabila diantara mereka tidak saling mengenal, maka si laki-laki dianggap melakukan kesalahan dan dapat dituntut dalam rapat adat.( Riwut,2003:223-224).



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Diigo! LinkedIn! TwitThis Joomla Free PHP

Comments (0)
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 07 Februari 2010 22:30  

VISITORS

Statistics

Kunjungan : 307489

Who's Online

Kami punya 25 tamu online

Advertisement