| Indeks Artikel |
|---|
| Kehidupan Lansia Tradisional Suku Dayak di Kalimantan Tengah |
| Halaman 2 |
| Seluruh halaman |
Ayahnda dari Tjilik Riwut
Tidak kenal maka tidak cinta, agar dicinta, izinkan kami masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah terlebih dahulu mengenalkan budaya kami. Kami, anak esun Tambun Bungai , telah menyatu dan bersahabat dengan alam bumi kami, dan terjadinya dengan mengalami proses panjang. Dari keseharian pengalaman hidup, kami menyadari bahwa tak akan mungkin kami mampu menundukkan keganasan alam, hutan rimba belantara yang dihuni oleh segala jenis binatang buas, di mana sungai-sungai luas mengalir deras yang kadangkala masih dilengkapi riam-riam ganas yang seolah siap menantikan mangsa merupakan bagian dari kehidupan kami. Keadaan demikian telah menyadarkan kami untuk tidak mampu berontak menundukkan alam kami, namun kami mencoba memahami dan bersahabat dengannya.
Salah satu cara kami untuk lebih dekat dan menyatu dengan alam, adalah dengan berusaha mencapai keheningan. Untuk itu sering kali kami masuk kedalam lebatnya hutan, mencari tempat sepi, berkonsentrasi demi mencapai hening, untuk mohon petunjuk kepada Hatalla . Hening, peka, menyatu dengan alam berdampak nyata, salah satu diantaranya Tatu Hiang orang Dayak bakaji serta mempunyai kemampuan spiritual yang tidak dapat disepelekan begitu saja.


































