nila-riwut.com

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf
Home Orang Dayak dari Jaman ke Jaman Dayaknese Women Apa dan Siapa Perempuan Dayak

Apa dan Siapa Perempuan Dayak

Surel Cetak PDF
Indeks Artikel
Apa dan Siapa Perempuan Dayak
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4
Halaman 5
Seluruh halaman

1. PENDAHULUAN

Para pendahulu kami hidup bebas di alam, ditemani gemerecik suara mengalirnya air sungai, kicau burung, aroma lumut hutan dan hijaunya pepohonan. Kemurnian alam membuahkan keceriaan dan ketulusan hati. Demikian suasana hidup keseharian nenek moyang kami.

Sebagai perempuan Dayak yang tidak berdomisili di kampung halaman, berkali-kali saya dihubungi atau tepatnya dihakimi bahwa perempuan Dayak trampil dalam hal guna-guna[1] juga santet[2]. Ada yang datang dan mengeluh kerumah saya karena salah seorang kerabatnya terkena santet perempuan Dayak. Ada pula yang minta bantuan untuk membebaskan kerabatnya dari pengaruh guna-guna/santet tersebut. Benarkah perempuan Dayak trampil dalam mengguna-guna dan menyantet lawan jenis demi kepentingan pribadi ?. Apa Dan Siapa Perempuan Dayak berusaha memberikan jawaban untuk tudingan dan kecurigaan tersebut.

Tulisan ini ditulis berdasarkan kumpulan catatan dan dokumen Tjilik Riwut, seorang pencinta budaya. Sebagai pelengkap, saya sertakan pula pengalaman dan ungkapan rasa syukur, keresahan dan keprihatinan saya sebagai perempuan Dayak. Juga pengalaman pergumulan hidup saya untuk menggenggam kembali jati diri sebagai perempuan Dayak yang nyaris terlepas dari genggaman akibat terlalu lama meninggalkan kampung halaman sebagai pendamping suami[3].

Disini dalam tulisan ini informasi terfokus pada peran perempuan Dayak dimasa lalu. Untuk menampilkan peristiwa dan tantangan-tantangan masa kini, saya ungkapkan pengalaman saya berjuang untuk bangkit dengan berpegang pada tongkat keluhuran panatau Utus[4] agar dia matei buseng[5] dihantam derasnya arus globalisasi. Dengan mengungkap pengalaman yang pernah saya alami, saya berharap kerinduan perempuan Dayak yang bernasib sama dengan saya[6] tertantang untuk meraih kembali sesuatu yang nyaris “menguap” tersebut.

Terputusnya generasi dari pergaulan budaya suku, bukan tidak mungkin berakibat lunturnya jati diri sebagai perempuan Dayak[7]. Kekhawatiran terputusnya generasi dari pergaulan atau pengetahuan budaya leluhur akibat tergesernya tradisi tetek tatum[8] tergerus arus modernisasi, mengantar saya memilih judul diatas.

Uraian dalam tulisan ini saya persempit bukan perempuan Dayak pada umumnya. Tetapi lebih terfokus pada perempuan Dayak di daerah Kalimantan Tengah. Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak yang masih terbagi kedalam beberapa suku . Setiap suku dibagi lagi dalam beberapa sub suku dan memiliki bahasa daerah sendiri. Suku-suku tersebut antara lain suku Dayak Ngaju, Dayak Ot Danum, Ma’anyan, Lawangan, Siang, dan lain-lain.

 



Comments (0)
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 10 Februari 2010 13:57  

VISITORS

Statistics

Kunjungan : 242927

Who's Online

Kami punya 17 tamu online

Advertisement